MENANGGAPI ESAI




MENANGGAPI ESAI
Menanggapi esai yang ditulis oleh Fitria Ningrum mengenai Drama Jaka Tarub yang ditampilkan Teater GEMA pada Rabu, 4 Oktober 2016 di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Didalam esai yang ditulis Fitria Ningrum, ia menyampaikan beberapa hal yang dapat dipelajari dari adanya drama yang dimainkan oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas PGRI Semarang. Fitria menuliskan pada esainya :
Belajar dari cerita
Hal yang telah disepakati dan dijanjikan seharusnya ditepati oleh kedua belah pihak yang menyetujui hal tersebut. Namun dalam hal ini janji yang telah disepakati keduanya diingkari oleh Jaka. Sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan hal sesuatu yang tidak baik akan ketahuan juga oleh orang lain. Seperti pepatah sepandai-pandainya menyembunyikan kebusukan pasti akan tercium juga kebusukan tersebut.
Menurut saya mengenai esai yang dituliskan Fitria memang cukup menarik. Karena dalam esai tersebut ia menyampaikan mengenai sifat kurang terpuji yang dimiliki manusia yaitu melakukan kebohongan hingga mengingkari janji. Drama Jaka Tarub juga memberikan pembelajaran yang cukup penting. Dibalik kebohongan yang tertata rapi pasti akan ada celah untuk membongkarnya, dan dampak dari sebuah kebohongan itu pasti merugikan diri sendiri dan mungkin orang lain juga.
 Oleh karena itu drama ini memnyampaikan makna untuk menjadi orang yang lebih baik. Selain itu ada pula sifat manusia yang cukup tidak terpuji yaitu mengingkari janji. Dalam drama ini pula terlihat seorang Jaka Tarub yang mengingkari janjinya kepada Nawang Wulan. Dan akibatnya Jaka harus rela ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai karena perbuatannya sendiri. Seperti kata pepatah 1000 kebaikan akan terlihat sia-sia jika kita melakukan 1 keburukan. Kata pepatah tersebut menyerupai kejadian yang menimpa Jaka Tarub. Setelah ia melakukan beberapa kebaikan kepada Nawang Wulan akan tetapi Jaka Tarub juga melakukan keburukan yaitu mengingkari janji. Hingga akhirnya perpisahan terjadi saat itu juga, walaupun Jaka Tarub telah meminta maaf pada Nawang Wulan. Nawang Wulan tetap meninggalkan Jaka Tarub dan ia juga memaafkan tindakan Jaka Tarub.
Selain itu dalam esainya Fitria juga menuliskan :
Pada akhirnya sesuatu yang dilakukan secara fatal akan menimbulkan penyesalan dalam kehidupannya. Serta kebohongan yang disembunyikan akan nampak terlihat suatu saat seiring berjalannya waktu. Cerita tersebut mengajarkan bahwa sepahit-pahitnya kejujuran harus dikatakan atau diucapkan jika tidak ingin menyesal akhirnya.
Selanjutnya Fitria menyampaikan mengenai sebuah kejujuran yang turut disertakan dalam drama Jaka Tarub. Kejujuran memanglah bukan hal yang mudah untuk dilakukan semua orang. Ibaratnya kejujuran adalah kunci utama. Seseorang yang membiasakan diri untuk selalu berkata dan berbuat kejujuran pasti banyak disukai oleh orang-orang disekitarnya. Akan tetapi dalam Drama Jaka Tarub, sang tokoh utama atau Jaka Tarub tidak menerapkan sikap jujur pada dirinya. Saat adegan turunnya Nawang Wulan dan ia kehilangan pakaian dan selendangnya yang ternyata dicuri oleh Jaka Tarub itu adalah salah satu wujud ketidak jujuran yang dilakukan Jaka Tarub. Walaupun yang dilakukan Jaka Tarub itu semata-mata agar dapat berkenalan dengan Nawang Wulan, tetapi yang dilakukan Jaka Tarub bukanlah sebuah tindakan yang bersifat jujur.
Pada bagian esai yang lain, fitria juga menuliskan:
 Cerita tersebut sangat menarik dan telah dikembangkan menjadi sebuah drama yang luar biasa agar cerita rakyat tetap ada secara turun temurun dari generasi satu ke generasi lainnya.
Sepaham dengan esai yang dituliskan Fitria dengan adanya Drama Jaka Tarub ini diharapkan tetap membuat cerita rakyat diketahui oleh semua generasi. Saat ini generasi penerus bangsa sangat menikmati kehidupan yang didukung kemajuan teknologi akan tetapi generasi tertentu saja yang menggunakan kemajuan teknologi itu untuk hal positif sekaligus dengan turut menjaga “Harta Karun” yang dimiliki Indonesia. Selain itu, kurangnya kesadaran generasi saat ini mengenai cerita rakyat yang telah ada sejak dahulu. Hingga dengan adanya drama ini bermaksud untuk turut menjaga kelestarian sebuah karya terutama mengenai cerita rakyat.
Akan tetapi dalam esai yang ditulis Fitria, ia tidak membahas mengenai tata panggung dalam Drama Jaka Tarub. Padahal hal yang menarik juga terdapat dalam tata panggung dan lighting. Dalam drama tersebut memiliki tata panggung yang menarik tetapi letak property “Bulan” tertutup dengan property “Pohon”. Sehingga letak property “Bulan” yang tidak terlalu terlihat oleh beberapa penonton yang ada di barisan depan. Selain itu semua tata panggung sangat mendukung jalannya cerita Drama Jaka Tarub. Di sisi lain lighting atau pengaturan lampu juga mendukung suasana dan alur cerita Drama Jaka Tarub.
Selain itu ia juga tidak menuliskan mengenai ekspresi dan gesture pemain Drama Jaka Tarub. Ekpresi beberapa pemain memanglah sudah cukup baik, hingga salah satu pemain benar-benar meneteskan air mata pada salah satu adegan. Akan tetapi mulusnya jalan cerita sedikit terganggu dengan jatuhnya salah satu pemain dalam sebuah adegan, namun sedikit noda tersebut dapat ditutupi oleh kekompakan yang telah dibangun dengan pemain lainnya. Sehingga masih membingungkan apakah kejadian tersebut murni adegan dalam cerita atau sebuah kecelakaan yang tidak disengaja.
Namun dengan beberapa kekurangan yang terjadi dalam Drama Jaka Tarub, drama tersebut tetap memiliki daya tarik tersendiri. Dengan hadirnya pemeran Tomo-Topo yang membuat suasana jauh lebih mengasyikan ditemani guyonan yang dihadirkan. Dan dalam drama tersebut terlihat jelas mengenai rasa sayang yang dimiliki seorang ayah untuk anaknya yang diperankan dengan sangat apik oleh Jaka Tarub saat sudah tua kepada sang anak Nawangsih.




  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jungkook Jimin

Black Dog dari Korea

Kamu.