Berbalas Surat
Teruntuk Pak Naka dosenku yang bijaksana, saya sangat
tersentuh membaca surat yang mungkin bapak ketik ditemani cucuran keringat yang
mengalir layaknya air terjun. Walaupun surat yang bapak ketik penuh dengan
hinaan yang memang benar-benar terjadi pada kami. Tapi tak bisa dipungkiri pak,
Indomie masih yang terbaik untuk menangani masalah perekonomian rakyat kosan.
Selain itu bapak juga harus tahu bagaimana upaya kami
menutupi kesedihan saat tak memiliki uang, teman, makanan, hingga pacar pak.
Upaya yang saya maksud adalah upaya agar tetap terlihat bahagia. Ya jadi wajar
ya pak, jika garis wajah yang tiap hari Senin pagi bapak lihat adalah garis
wajah pura-pura bahagia bahkan mungkin garis wajah gagal bangun siang dan garis
wajah yang tidak mandi hanya untuk bertemu bapak. Tapi semuanya itu ada
tujuannya pak, yaitu untuk tetap tepat waktu mengikuti perkuliahan bapak. Tidak
peduli aroma tubuh tak sewangi kembang 7 rupa yang terpenting adalah
perkuliahan.
Pak Naka dosenku yang maha mengetahui kelemahan dan
keburukan mahasiswanya. Mengenai kurang aktifnya kami menyampaikan pendapat
didepan kelas bukan dipengaruhi karena kami takut dengan kehadiran bapak. Tapi
sebagian dari kami terkadang masih kurang percaya diri untuk berbicara didepan
umum. Jangankan saat ada dosen, terkadang saat kelas kami mengadakan rapat
untuk membahas suatu hal yang turut menyampaikan pendapat dapat dihitung dengan
jari bapak. Jadi ya begitulah adanya pak.
Bagi beberapa mahasiswa termasuk saya, mungkin berbicara
didepan umum memang tidak mudah pak. Terkadang kaki berat untuk berjalan ke
depan dan menyampaikan pendapat, terkadang kami dikengkang rasa malu, terkadang
kami dikerubung oleh rasa takut jika salah, dan terkadang kami juga lebih
menikmati peran sebagai pendengar daripadi sebagai pembicara. Walaupun kami
memang harus dituntut lebih aktif yaitu dengan cara berbicara dan walaupun
godaan nilai yang akan bapak berikan pada kami sangatlah besar. Tapi untuk
melawan rasa malu, takut salah itu mengalahkan rasa ingin menambah nilai, ya
walaupun sebenarnya itu alasan yang buruk bagi mahasiswa semester 3 seperti
kami.
Mengenai kebiasaan yang bapak terapkan kepada kami yaitu
dengan membeli buku, membaca koran, berlangganan koran, membaca situs internet
bahkan hingga mengkliping koran. Kebiasaan itu memberikan dampak yang positif
untuk kami. Karena secara pribadi mungkin banyak dari kami yang kurang menyukai
budaya membaca. Terutama saya kurang menyukai budaya membaca, kecuali untuk
membaca sebuah komik yang menurut saya lebih menyenangkan. Tetapi sejak secara
tidak langsung bapak menerapkan kepada kami agar membudayakan membaca segala
hal bukan hanya yang kami sukai. Jadi kami lebih mengenal apa saja yang terjadi
disekitar kami dengan adanya kebiasaan baru yang bermanfaat yaitu membaca.
Berbicara mengenai kehidupan ya pak. Sebenarnya hingga
saat ini saya juga masih tak sepenuhnya memahami diri saya sendiri. Dan saya
sering menilai bahwa diri saya ini adalah tipe orang yang susah ditebak. Jadi
jika bapak bertanya mengenai apa niatan saya untuk bertahan hidup, jawabannya
adalah saya bertahan hidup untuk saya sendiri dan orang-orang yang ada
disekitar saya. Orang-orang yang selalu mendukung dan melakukan yang terbaik
hanya untuk saya. Jadi saya merasa harus bertahan hidup untuk membuat
orang-orang tersebut bangga atas apa yang saya lakukan.
Dan mengenai motivasi saya melanjutkan kuliah. Saya
menyadari bahwa saya harus menjadi seorang wanita cerdas dan berwawasan luas.
Karena ilmu yang didapat saat di perguruan tinggi jauh lebih detail. Alasan
lainnya karena beberapa acara di televise mengatakan bahwa seorang anak
mewarisi kercerdasan ibunya, oleh karena itu saya berusaha menjadi orang yang
cerdas hingga membuat calon keturunan saya juga terlahir cerdas. Sedikit aneh
ya pak tapi ya memang itu yang sebenarnya.
Untuk saat ini buku yang ada dimeja kos saya hanya
beberapa buku perkuliahan dan dua buah komik dengan judul yang sama namun alur
cerita yang berbeda. Saya juga pernah membaca beberapa novel yang bertemakan
cinta, persahabatan dan rasa sayang kepada orangtua. Saat saya masih duduk
dibangku sekolah saya sering ke toko buku dan hanya tertarik dengan beberapa
novel yang bertemakan cinta dengan halaman buku yang tidak terlalu tebal.
Karena saya selalu berfikir jika buku dengan halaman yang banyak akan sangat
membosankan. Buku lain yang pernah saya baca adalah Siti Nurbaya dan Pulang.
Menurut saya sudah cukup bagi saya menulis ocehan ini
bapak. Saya sudah sedikit menceritakan asam manis pahit kehidupan saya. Maaf
jika tutur kata saya ada yang menyakiti hati pak naka yang baik dan budiman.
Tapi sejujurnya saya tak sampai hati untuk meninggalkan luka melalui perkataan
yang menyakiti hati dosen saya sendiri. Saya juga mohon maaf pak, jika tugas
yang selama ini saya dan teman-teman kerjakan jauh dari kata sempurna. Ya
gimana lagi ya pak, kita masih mencoba menjadi yang terbaik untuk mengerjakan
tugas. Tapi gimana mau menjadi yang terbaik bila sampai saat ini tugas kita
masih disponsori oleh google. Ya memang ini kenyataannya.
Pak Naka dosenku yang mungkin sedang membaca surat ini,
saya rasa saya akan mengakhiri surat atau lebih cenderung ke curahan hati saya
ini. Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada bapak karena telah sudi membuang
waktu untuk membaca surat dari mahasiswimu yang belum genap 20 tahun ini pak.
Maaf jika merepotkan bapak dengan hadirnya surat ini pak. Salam.
Komentar
Posting Komentar