Cerpen
RISA
by : me
by : me
Namaku Karenina Putri, tetapi lebih
sering dipanggil Nina. Aku memiliki sahabat yang sudah menemaniku selama 5
tahun. Namanya Risa Azahra, lebih akrab ku panggil Risa. Kami berteman akrab
hingga keluargaku dan keluarga Risa juga menjadi dekat. Hampir tidak mengenal
waktu jika aku dan Risa sudah mulai bertemu. Menghabiskan tiap hari ku
dengannya. Melakukan hal-hal gila yang secara tidak langsung membuatku
tertawa.Bagiku Risa adalah segalanya. Dia pakar dalam membuatku bahagia. Dia
adalah orang yang sangat ceria. Kami suka menghabiskan waktu bersama. Pergi
nonton film terbaru bersama, beli baju yang sama dan kita mirip anak kembar
yang terlahir dari rahim yang berbeda.
Tiada
hari yang kita lewati tanpa tawa dan candaan. Risa suka memanjakanku sebagai
sahabat. Aku sering sekali diberikan kejutan kecil olehnya. Dulu aku pernah
memberitahunya bahwa aku sedang ingin menonton konser seorang penyanyi idolaku,
tanpa pikir panjang keesokan harinya Risa membelikan tiket konser penyanyi itu.
Risa memang tak bisa ditebak. Dia yang terbaik yang aku tahu. Makhluk dengan
1000 ide dan keceriaan yang tersimpan dalam dirinya. Hingga suatu keceriaan itu
sirnah. Bak ditelan ombak. Risa dikabarkan masuk ke rumah sakit malam itu.
“Nina, ini tante. Sekarang tante lagi bawa Risa ke rumah sakit.” Ucap Tante
Laras atau Mama Risa yang menelfonku saat itu. “ Loh, Risa kenapa tante?”
tanyaku. “Tante juga tidak tahu,Risa. Tiba-tiba saja dia pingsan.” balasnya.
Aku bingung. Sejenak aku diam dan berpikir apa yang harus aku lakukan. “Tante,
kabarin ya Risa dibawa ke rumah sakit mana.” jawabku cepat. Malam itu juga
Tante Laras mengirimkan sebuah alamat rumah sakit padaku.
Keesokan harinya aku pergi menuju
rumah sakit. Aku baru bisa menjenguk Risa pagi ini. Semalaman aku merengek ke
mama untuk pergi ke rumah sakit tetapi tak di ijinkan. Bergegas aku menuju
kamar Mawar no 9. Aku tiba tepat didepan pintu kamar tersebut. Aku pun mulai
memasuki kamar tersebut. Ku lihat seseorang yang kukenal sedang tertidur diatas
ranjangnya dengan dilengkapi oksigen dan selang infuse ditubuhnya. Melihatnya
seperti itu rasanya aku hampir gila. “Risa, ini Nina disini. Risa bangun dong.”
ucapku terbatah-batah. “Risa jawab dong. Nina mau ngobrol banyak.” ucapku lagi.
Tak sadar ternyata aku sudah mulai menangis. Kalo Risa tahu sekarang aku
menangis pasti dia akan meledekku, seperti yang biasa dia lakukan.
Hingga matahari tenggelam aku masih
di sisi Risa. Dan Risa masih belum sadarkan diri. Mama Risa juga baru saja
datang dengan membawa amplop cokelat hasil check
up dokter yang berukuran cukup besar ditangannya. “Loh, Nina disini dari
kapan?” tanyanya yang cukup kaget melihatku. “Nina disini dari tadi pagi tante.
Gimana keadaan Risa tante?” jawabku. “sebenarnya Risa mengidap Kanker Otak
stadium awal” balas tante Laras. Sontak aku pun kaget. Karena selama ini aku
selalu melihat Risa baik-baik saja. Dia bahkan tidak pernah mengeluh
sedikitpun.
Lalu
aku teringat pernah suatu hari saat Risa bermain kerumahku, dia terlihat pucat.
“Lo kenapa? Pucat gitu.” tanyaku. “Gapapa gue, emang pucat? Gue gak pake
lipstick hari ini.” jawabnya. “Oh gitu, kirain sakit.” jawabku cuek tak terlalu
memikirkan perihal itu lagi. Dan saat ini aku terbayang, mungkin saat itu Risa sudah
merasakan sakit yang sangat hebat. Tetapi ia menutupinya dengan saat sempurna,
dan aku juga tidak terlalu memperhatikannya juga.
Bahkan
sepertinya aku yang selalu mengeluhkan hal-hal kecil ke Risa. Aku selalu
mengeluh saat perutku sakit, atau saat aku terkena flu ringan. Aku mengeluh
layaknya orang yang mengidap penyakit parah, dan Risa selalu memanjakanku
dengan sikap keibuannya. “Mau gue beliin apa? Obat? Lo udah makan?” ribuan
pertanyaan yang selalu ia ucapkan saat aku mengucapkan keluahanku. Sekarang aku
tidak bisa membayangkan, apa yang dia lakukan jika penyakitnya kumat. Dia pasti
merasakan sakit yang sangat hebat itu sendirian.
Jam
dinding menunjukkan pukul 20.45 WIB. Aku memutuskan untuk kembali kerumah
meninggalkan Risa dan tante Laras. Hari-hari berikutnya aku melakukan hal yang
sama. Mengunjungi Risa dan merawatnya serta menemani tante Laras. Aku tipe
orang yang mudah bosan, tetapi beda dengan hal yang satu ini. Aku tidak pernah
bosan mengunjungi Risa, menatapnya, berbicara hal-hal yang dia lewati selama
dia tak mengikuti pelajaran di sekolah. Setelah berada di rumah sakit dari pagi
hingga sore, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. “Tante, nina balik kerumah
dulu ya.” pamitku. “Iya nina, hati-hati ya” balasnya.
Sesampainya
dirumah, aku memutuskan untuk mandi agar membuat tubuhku lebih segar. Setelah
itu aku membaca beberapa komik favoriteku dengan mendengarkan beberapa lagu
terbaru yang ada didalam MP3 miniku. “Nina.” teriak mamaku memasuki kamarku.
“Duh, iya ma. Kenapa?” jawabku. “Tante Laras barusan telepon mama, katanya Risa
sudah sadarkan diri. Mataku melotot, mulutku dalam keadaan terbuka. Malam itu
juga aku bergegas ke rumah sakit diantar oleh mamaku. Memasukin kamar Risa aku
melihat sosok yang biasanya hanya memejamkan matanya kini ia sudah mulai duduk
dan memakan beberapa buah. “Risa.” teriakku dari muka pintu dan berlari
memeluknya. “Apaan sih, Nin?” jawabnya lemas. “Gue kangen lo, kesel banget gue
lo sakit gini ga pernah bilang.” Balasku sedikit kesal. “Gue juga bingung, Nin.
Gue takut bikin orang-orang di sekitar gue khawatir.” jelasnya. “Sekarang lo ga
boleh takut. Lo harus ngomong apa aja yang lo rasain ke gue. Gue gak mau
keliahatan bego karena gue gak tau keadaan lo yang sebenarnya.” balasku. “Iya
nin. Siap” jawabnya. “Pokoknya gak boleh ada yang lo tutupin. Lo harus jujur
dan terbuka. Mulai saat ini.” tegasku. “Iya, buset bawel amat lo.” Jawabnya
dengan sedikit candaan.
Makin
hari keadaan Risa makin membaik. Ia rajin melakukan kemotraphy untuk penyakitnya. Walaupun ia sering mengeluh tapi
semangatnya jauh lebih besar. Aku dan tante Laras pun selalu menemaninya.
Hingga suatu hari dokter member tahu bahwa kanker yang ia derita mulai sirnah
dan ia juga sudah bisa pulang. Aku melihat senyum Risa yang mengembang sempurna
di bibir tipisnya. “Yey! Akhirnya lo bisa balik.” seruku. “Iya nin, seneng
banget gue.” jawabnya.
Setelah
ia merasa sembuh total, ia memutuskan kembali ke sekolah. Rizki si ketua
kelasku berlari dan berteriak kearahku. “Nina, Risa balik ke sekolah. Dia lagi
dianter nyokapnya tuh ada di depan Hall.” ucapnya. “Sumpah lo?” jawabku
antusias. Aku pun berlari menuju hall. Aku melihat seorang perempuan dengan
rambut dikuncir kuda dan menggunakan jaket yang warna dan bentuknya sama dengan
punyaku. “Risa.” teriakku sambil berlari kearahnya. “Hati-hati, lari mulu lo.
Kalo jatuh aja mewek terus.” jawabnya dengan senyum. “Nyebelin amat sih,
katanya belum boleh balik ke sekolah, eh malah udah masuk aja.” kataku sambil
memoyongkan bibirku. “Kan kejutan. Haha.” balasnya. “Nina, tante titip Risa
ya.” Ucap tante Laras. “Tenang aja tante. Nina siap jagain 24 jam. Hehe”
jawabku. Lalu tante Laras pergi meninggalkan aku dan Risa. Aku dan Risa
berjalan menuju kelas.
Beberapa
hari setelah Risa kembali ke sekolah, ku lihat ia makin membaik. Risa kembali
menjadi anak yang ceria. Kami pun jauh lebih bahagia. Kami juga selalu
melakukan hal-hal gila yang sempat tertunda karena Risa masuk ke rumah sakit.
Demikianlah kisahku dan Risa sahabat terbaik yang pernah ku miliki.
Komentar
Posting Komentar