KE GUNUNG KIDUL CUMA BUAT SURVEI


Tepatnya pada tanggal 30 April 2018 lalu, aku dan lima temanku memutuskan untuk menghabiskan 2 hari dengan berlibur bersama. Enam orang yang memutuskan untuk turut berpartisipasi adalah aku, Rohmatul, Rio, Ningrum, Ika dan Andaru. Kami memutuskan destinasi yang dekat dan mungkin tidak membutuhkan budget yang besar yaitu Yogyakarta. Dari awal kami memutuskan untuk membawa budget sekitar 100 ribu dalam bayangan kami. Namun kenyataanya 100 ribu tidak cukup menghidupi kami. Dari awal perjuangan sudah berat, kami harus menunggu kepastian dari Rohmatul yang ternyata belum datang ke Semarang, karena Rohmatul berangkat dari rumahnya yaitu Purwodadi. Setelah Rohmatul datang, akupun menyampaikan pada temanku bahwa aku akan berangkat ke arah ungaran pada sebelum pukul 09.00 WIB. Empat temanku yang lainnya pun jga menyampaikan akan berangkat dari rumah masing-masing ke tempat kita janjian. Sekitar pukul 10.30 enam orang sudah berkumpul ditempat yang dimaksud. Kami pun memulai petualangan kami saat itu juga.
Nah, siksaan jalanan akan segera dimulai. Pertama, debu dan panas adalah musuh terbesar kami. Kedua, pegal dan lelah adalah paket lengkap yang kami rasakan selama dalam perjalanan. Ketiga, lapar dan haus adalah sisi lain yang selalu ada. Namun dibalik tiga siksaan yang berlangsung paling tidak sekitar 3jam itu, cukup terbayar dengan adanya beberapa pemandangan yang indah. Terkadang kalau kami melewati pemandangan yang cukup indah, kami akan memelankan kemudi motor kami hanya untuk membuat video pada akun sosial media kami. Singkat cerita, sekitar pukul 12.45 kami sudah tiba di kota gudeg. Namun, setibanya disana siksaan baru menghampiri lagi. Rio dan Ningrum yang kebetulan memang saling berbocengan tiba-tiba tidak bersama kami. Setelah bertemu dan berkumpul lagi, kami memutuskan untuk mencari penginapan didekat area Malioboro yang cukup dan sesuai budget kami. Setelah itu , mendapatkan satu penginapan yang dapat menampung enam orang dalam satu kamar dengan menggunakan Family Room.
Akhirnya kami memutuskan mengambil kamar tersebut. Sore hari kami habisnya di penginapan untuk mengembalikan energi yang habis dijalan. Setelah kami beristirahat, pada malam harinya kami bersiap-siap menikmati keramaian yang identik dengan Malioboro. Kami memutuskan berjalan dari penginap menuju Malioboro. Malam itu Malioboro sangat ramai, kami berjalan-jalan melihat apakah ada benda-benda lucu yang layak dibeli. Beberapa dari kami membeli tas laptop karena memang membutuhkannya dan membeli oleh-oleh untuk sanak keluarga. Sepanjang jalan kami mengeluh lapar, niat hati ingin irit dengan makan di sebuah angkringan mungkin. Namun ntah bagaimana kami memutuskan membeli mie goreng, mie rebus dan nasi goreng di pinggir jalan yang kebetulan berada didekat penginapan kami. Cukup mengejutkan harga dari makanan yang kami beli ternyata tak sesuai bayangan kami yang bercita-cita irit. Sesampainya di penginapan kami menikmati makanan yang kami beli bersama-sama dan ternyata rasanya juga tidak ada yang istimewa.
            Pagi itu masih sangat pagi, kami sudah harus bangun dan bersiap menuju destinasi selanjutnya. Setelah kami mengemasi barang dan check out dari penginapan. Kami menuju Gunung Kidul, karena memang terlalu pagi jadi kami memutuskan menyari tempat makan yang ada dipinggir jalan selama dalam perjalanan. Hingga kami menemukan tempat makan gudeg yang lumayan mengisi perut kami pagi itu. Setelah sarapan kami menuju Pantai di daerah Gunung Kidul. Kebetulan saat itu, Rohmatul yang memegang kemudi motor. Ya walaupun aku tahu, bahwa Rohmatul akan mengemudi motor seperti membatik di atas kain. Setibanya di Gunung Kidul, kami masih belum menentukan pantai mana yang akan kami datangi. Beberapa pantai kami datangi tapi kami selalu kembali kejalan utama karena alur jalannya tidak cocok dilewati dengan motor hingga kami sempat terjatuh dari motor dan beberapa alasan lainnya. Saat itu pula, Rio dan Ningrum yang kebetulan memegang kendali dan berpacu pada Maps menyarankan untuk mengambil jalan yang berbeda. Diawal perjalanan memang belum ada yang aneh. Lama-kelamaan karena terlalu lama aku dan Rohmatul mulai bercuap-cuap. Aku selalu bertanya kepada Rohmatul dimana letak pantainya. Dengan santai Rohmatul menjadi nanti pasti ada di bawah. Beberapa menit kemudian aku bertanya pertanyaan yang sama, dan Rohmatul menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga suatu waktu, kami sudah berada di desa antah berantah namun tidak ada aroma pantai sama sekali melainkan hutan. Kami memutuskan bertanya kepada warga sekitar dimana letak pantainya. Warga menyarankan sebuah jalan yang harus kami lewati. Kami ikuti saran dari warga tersebut, cukup lama kami melewatinya dan tiba-tiba kami muncul lagi dijalan yang sudah kami lewati. Aku dan Rohmatul saling bertanya-tanya, jadi selama itu kami hanya berputar-putar dan melewati alur yang lebih jauh. Seharusnya kami bisa sampai di pantai dengan lebih cepat. Namun, kami lebih memilih survei hutan yang ada di Gunung Kidul. Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jungkook Jimin

Black Dog dari Korea

Kamu.